Barcelona atau Real Madrid

Skor yang sangat mencolok untuk kemenangan el barca (sebutan Barcelona) atas rival terberatnya Real Madrid. Siapa yang mengira kalau el barca akan menang dengan skor yang sangat telak? Saya pun tak menduga. Kemengan fantastis pada laga El classico ini semakin mendongkrak reputasi el barca serta mendominasi kemenangan selama dua musim berturut-turut, skor terakhir yang saya ingat adalah 2 – 6 untuk el barca di Santiago Bernabeu, markas Real Madrid.

Sebenarnya tidak ada yang kurang dari pasukan Mourinho. Pemain bertabur bintang dengan skill yang tak diragukan seharusnya sudah menjadi modal berharga bagi Iker Cassilas dkk. untuk bisa mengimbangi permainan el barca. Belum lagi kehadiran Mourinho sendiri yang memberikan spirit baru dan harapan baru bagi publik kota Madrid yang telah lama mendambakan gelar sebagai juara La liga. Itulah sepak bola, ketika peluit kick off dibunyikan, bukan hanya skill individu yang menjadi jaminan, bukan hanya pelatih handal yang dibutuhkan melainkan kepercayaan diri dari sebuah tim itu sendiri untuk mampu mengatasi setiap masalah di atas lapangan. Bola tidak pernah memihak kepada siapa dia harus tunduk, tidak pula menghamba kepada tim mana dia mau dikuasai selama 2 x 45 menit. Bola selalu berputar, menggelinding dan melesat tanpa tahu kemana dia ditendang (karena yang tahu tujuannya adalah penendang itu sendiri).

Faktor X juga menjadi penentu terhadap hasil pertandingan. Apakah faktor X itu? faktor X adalah segala sesuatu yang luput oleh analisis logika. Bola yang seharusnya masuk bisa jadi hanya membentur mistar gawang yang menurut pengamatan disebabkan arah angin atau tanah yang tidak rata. 🙂 Konyol terkadang, tapi itulah sepak bola, sebuah permainan yang seharusnya tidak menjadi perdebatan tentang siapa yang menang atau pun kalah karena seharusnya yang menjadi tujuan intinya adalah olahraga sebagai ajang menyalurkan bakat. Betul?