Melimpah Ruah

Nggak heran kalo pas lebaran, berat badan beranjak naik. Gimana nggak naik, stok makanan berlimpah mulai dari makanan kelas berat sampai makanan kelas ringan yang rata-rata kadar kolestrolnya tinggi, hehehe… Padahal diet ala puasa sudah menampakkan hasil, tapi bakso, lontong kari dan camilan aneka rasa menumpuk lemak yang mulai mengikis..huftt… Baca lebih lanjut

Ramadhan kali ini

Tak terasa, Ramadhan kali ini hampir sampai di penghujung bulan. Kesempatan kita untuk “mengeruk” pahala tersisa dua hari lagi. Dua hari yang terasa sangat riskan bagi kita karena disaat bersamaan, kepentingan manusia menjadi tumpang tindih. Satu sisi, kebanyakan dari kita mempersiapkan perayaan datangnya hari idul fitri dan di sisi yang lain ibadah akhir bulan Ramadhan justru berlipat ganda karena adanya “bonus” yang sangat langka dari Tuhan, yaitu pahala 1000 bulan.

Manakah yang harus dikerjakan lebih dulu diantara keduanya? berikut ini contoh cerita yang sering terjadi pada masyarakat umum,

Pada saatnya sholat tarawih, mereka memilih absen karena para istri ingin berburu keperluan lebaran sedangkan suami mereka yang mengantarkan. Setelah itu mereka kelelahan dan absen juga untuk pergi ke mesjid melakukan i’tikaf. Hari-hari berikutnya pun begitu, masih ada saja keperluan yang harus dibeli dan disediakan sampai-sampai lupa untuk menyiapkan zakat.

Begitulah adanya yang terjadi di masyarakat kita. Jalanan padat merapat, khususnya di area yang dekat dengan pertokoan. Sebenarnya makna idul fitri sendiri bergeser terlalu jauh. Mereka atau bahkan kita lebih mementingkan seremonialnya atau pestanya ketimbang makna hakiki dari idul fitri itu sendiri. Allahu alam.

 

Jangan ikut campur

Kemampuan manusia untuk menerjemahkan hakikat kehidupan sangatlah terbatas. Tuhan telah memberikan bekal akal dan pikiran untuk memaknai hidup sesuai kodratnya. Namun seringkali manusia berusaha melampaui apa yang telah menjadi batas ketentuan Tuhan. Padahal pernah diibaratkan bahwa jika ilmu Tuhan itu seluas lautan yang ada di bumi ini maka, ilmu yang diberikan kepada manusia hanya setetesnya saja.

Ada wilayah-wilayah tertentu yang hanya bisa dijamah oleh kekuasaan Tuhan sedangkan manusia diperintahkan untuk tidak mencampurinya. Bukankah hal wajar jika bos melarang anak buahnya untuk masuk ke ruangannya tanpa ijin? Bukankah hal wajar jika anak tidak diperkenankan membuka dompet orang tuanya? semuanya berkaitan dengan etika. Jika kita melanggar, bukan saja yang berhak akan marah tetapi juga menganggap kita tidak tahu diri. Begitu pula Tuhan yang seharusnya dihormati melebihi apa pun, karena Dialah yang berkuasa atas kita semua. Jika Dia mengatakan, “jangan” maka, patuhilah. Baca lebih lanjut