Menulis ternyata butuh pertimbangan

Sebenarnya bukan judul di atas yang ingin saya posting hari ini, tapi berhubung tulisan yang saya tuangkan rawan konflik maka, saya nulis yang aman-aman saja. Bukan sekedar update blog, seperti tujuan awal dari blog ini adalah melatih saya dalam belajar menulis, baik dari segi konsistensi dan konten meskipun keduanya belum dapat saya tepati saat ini karena alasan sebuah prioritas. Ada banyak hal sebenarnya yang bisa kita tuliskan dalam blog, namun ada beberapa hal yang seharusnya menjadi filter agar tulisan kita tidak menjadi sumber provokasi dan konflik media.

Salah satunya adalah etika , misalnya ingin memberitahukan informasi mengenai penipuan pada sebuah situs e-commerce. Tidak perlu berapi-api menuangkan kekecewaan sampai penghuni hutan disebutkan semua. Ada cara yang lebih intelek. Kenapa saya sebut intelek? Semua user yang bisa posting dan bikin thread pasti bukan orang gaptek karena mereka tahu cara berkomunikasi. Bijaksana donk brur… Boleh anda kecewa, tapi bikin postingnya yang sopan dunk.

Ada baiknya mempertimbangkan tulisan yang kita buat karena apa yang kita tulis, itulah yang kita “tanam” di benak pembaca. Isi tulisan mencerminkan karakter penulis. Nggak percaya? tanya yang udah pengalaman. Kalau isi tulisannya saja menyulut emosi, gimana mau dikenal baik? Okelah, kalian bukan blogger, cuma bikin tulisan provokatif sekali terus cabut. Tapi ingat, ini dunia teknologi, brur. Kalau tulisan kalian berdampak serius, sekali ketauan, “bisa DPO” di jagat maya.

Tujuan utama menulis adalah agar tulisan kita dibaca (kecuali private). So, tetaplah berurusan dengan hati nurani dalam menuangkan ide yang ada dalam pikiran kita. Apalagi kalau kita berniat menunjukkan eksistensi diri. Aktualisasi diri, sah-sah saja, tapi tetaplah cermat dalam berkisah. Menulis adalah pengganti lidah dalam komunikasi virtual ini, apapun yang ditulis adalah apa yang dikatakan terlepas dari jujur atau pun tidak. Itulah penilaian umum dari banyak user karena kita hanya bisa melihat yang tersurat dan tak dapat melihat yang tersirat.

Salam blogger…

6 comments on “Menulis ternyata butuh pertimbangan

  1. Zahra mengatakan:

    Tapi kalau aku punya pendapat tulislah dengan jujur.

  2. Asop mengatakan:

    Salam narablog!๐Ÿ™‚

    Memang sih, tetap harus memperhatikan etika dan netiquette. Tapi jangan lupa, yang penting nulis!๐Ÿ™‚

  3. koeshariatmo mengatakan:

    setuju.. ati2 tulisan bisa lebih lebih tajam dari pedang.. (kate pribahasa)

  4. hudaesce mengatakan:

    Bagi saya menulis itu adlah sebuah keindhan, karena hanya dengan tulisnlah kita bisa mengungkapkan sesuatu yang terkadang lisan itu tidak bisa mengungkapkannya. ๐Ÿ™‚

  5. 3sna mengatakan:

    hahaha bahasa kehutanan bisa sampe keluar…๐Ÿ˜› kalo saya sih, dulu, tulisan saya sampe bisa bikin perang gender 1 angkatan kampus… wkwkkwk… padahal nulisnya netral dan bukan black campaign juga… cuma ada orang yg terlalu antusias sampai pengertiannya beda… ah parahlah๐Ÿ˜†

  6. ardi mengatakan:

    benar mas pertimbangkan dampaknya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s