Tahlilan dalam kacamata Islam

Tahlilan sepertinya sudah membudaya di masyarakat kita, khususnya masyarakat Jawa. Ritual tahlilan yang diadakan untuk memperingati kematian mayit ini sebenarnya berasal dari adat yang turun temurun. Dimulai dari hari pertama kematian sampai hari ketujuh, berikutnya ritual diadakan pada hari ke 40, 100 dan hari ke 1000. Sebagai umat islam, muncul pertanyaan, benarkah ritual tahlilan diajarkan dalam islam?

Maaf, mungkin tidak semua umat muslim mengadakan acara ini, namun jangan mempersepsikan bahwa tahlilan adalah ritual aliran-aliran tertentu dalam islam. Sekali lagi, jangan mengkotak-kotakkan agama islam dengan aliran-aliran yang ada di dalamnya. Islam cuma satu, Tuhan kita sama, nabi kita sama, kitabnya juga sama. Maka, jangan menganggap hal ini adalah ritual kelompok Muhammadiyah, NU, Sunni dan sebagainya karena kita akan kaji pada satu sumber, yaitu Alquran dan hadits.

Sejarah

Tahlilan secara harfiah berarti berdzikir dengan mengucap kalimat tauhid, “”Laa ilaaha illallah” yang artinya tiada Tuhan selain Allah. Hal yang paling identik dalam ritual ini adalah hidangan yang disajikan oleh “tuan rumah” atau keluarga mayit. Tahlilan sendiri merupakan adopsi acara ritual pada masa transisi yang dilakukan masyarakat hindu budha yang baru memeluk Islam dan tidak bisa meninggalkan kebiasaan lama. Mereka berkumpul di rumah keluarga mayit dan mendoakan mereka. Namun pada akhirnya setelah mereka memeluk islam, doa-doa yang mereka ucapkan saat itu diganti dengan dzikir (tasbih, tahmid dan takbir) dan tahlil. Akibatnya, tahlil dikonotasikan menjadi hari peringatan kematian seseorang.

Hidangan

Ritual tahlilan tidak pernah lepas dari hidangan  yang disajikan oleh tuan rumah selaku keluarga mayit. Saya pernah bertanya kepada para sesepuh, kenapa mereka diberi hidangan? alasannya adalah sebagai ucapan terimakasih karena telah mengirim doa kepada si mayit. Benarkah begitu? saya sempat berpikir, kasihan keluarga si mayit, mereka dalam keadaan berduka masih saja direpotkan dengan urusan dapur. Bahkan jika keluarga si mayit tergolong orang tidak mampu, tetangga kanan kirinya ikut menyumbang untuk mempersiapkan hidangan.

Saya seringkali menemui kejanggalan bahwa acara tahlilan ini mirip dan bahkan lebih meriah dari acara arisan RT/RW. Bagaimana tidak, seringkali di setiap penghujung acara terutama pada tahlilan hari ketujuh terlebih peringatan 40,100 dan 1000 hari, disediakan dua nampan (jawa: tempeh) lebar berisi hidangan dan perabotan. Rinciannya :

  1. Nampan pertama berisi nasi, urap-urap, ayam goreng, telur dan tahu+tempe
  2. Nampan kedua berisi perabotan seperti, piring, gelas, teko plastik dan sebagainya

Saya berpikir ini adalah acara pra tujuh belas agustusan (peringatan hari kemerdekaan) cuma ga pake bendera. Gara-gara hidangan inilah, niat mendoakan si mayit terkadang bergeser hanya untuk mendapatkan jamuannya. Mungkin bagi keluarga mayit yang mampu, itulah cara mereka untuk berbagi. Tapi saya rasa hal ini bisa saja menimbulkan kesenjangan sosial. Dikhawatirkan, rasa terimakasih yang berlebihan dari tuan rumah menimbulkan persepsi dari beberapa masyarakat. Misalnya, jika ada dua kematian dalam satu kampung, beberapa dari mereka akan mempertimbangkan apa sajiannya daripada niat mendoakan itu sendiri. Percayalah, pemahaman masa kecil saya yang dangkal seperti itu. Cari peluang, mana yang kiranya “berkat”nya (bingkisan berisi makanan yang biasanya diberikan diakhir acara selamatan) lebih mantap :p

Menurut Islam

Pengiriman pahala doa kepada mayit: Dari riwayat Abu Hirairoh, Rasulullah SAW bersabda,”Apabila anak Adam meninggal dunia maka terputuslah amalnya kecuali dari tiga hal : dari sedekah jariyah atau ilmu yang bermanfaat atau anak sholeh yang mendoakannya.” (HR. Muslim)

Dalam penjelasan tentang hadits ini, Imam Nawawi mengatakan, ”Doa, pahalanya akan sampai kepada si mayit demikian pula sedekahnya dan keduanya sudah menjadi kesepakatan para ulama. Demikian halnya dengan pelunasan utang-utangnya. Adapun haji bagi si mayit diperbolehkan menurut Syafi’i dan para pendukungnya, dan ini masuk dalam bab pelunasan utang apabila hajinya adalah yang wajib dan apabila yang sunnah serta telah diwasiatkan oleh si mayit maka ini masuk dalam bab wasiat. Adapun jika ia mati dan memiliki tanggungan puasa maka yang benar adalah walinya harus berpuasa baginya, masalah ini telah dibahas didalam bab puasa. Sedangkan bacaan al Qur’an dan menjadikan pahalanya bagi si mayit, sholat baginya atau yang sejenis itu maka didalam madzhab Syafi’i dan jumhur ulama bahwa itu semua tidaklah sampai kepada si mayit..” (Shohih Muslim bi Syarhin Nawawi juz XI hal 122)

Dari Jarir bin Abdullah al Bajaliy mengatakan,”Kami menganggap bahwa berkumpul di rumah keluarga mayit dan membuat makanan sama dengan meratapi mayat.” (HR. Ibnu Majah)
Ibnu Humam dalam Fathil Qodir Syarhul Hidayah mengatakan,”Disunnahkan bagi tetangga dari keluarga yang meninggal dan para kerabatnya yang jauh untuk mempersiapkan makanan bagi mereka yang dapat mengenyangkan mereka sehari semalam. “ (Aunul Ma’bud juz VII hal. 119, Makatabah Syamilah)

Al Qoriy mengatakan,”Pembuatan makanan yang dilakukan oleh keluarga si mayit untuk menyajikan orang-orang yang berkumpul baginya adalah bid’ah makruhah sehingga tepat apa yang diriwayatkan oleh Jarir diatas,’Bahwa kami menganggapnya bagian dari meratapi.” Dan hal ini tampak keharamannya.” (Tuhfatul Ahwaziy juz III hal 54 Maktabah Syamilah)

Kesimpulan tentang tahlilan adalah sebagai berikut :

  1. Bahwa amal-amal yang dilakukan, seperti dzikir, doa, sedekah yang pahalanya untuk dikirimkan kepada si mayit diperbolehkan.Khusus pengiriman pahala bacaan Al Qur’an, seperti al Fatihah, Yasin atau yang lainnya kepada si mayit hendaklah dilakukan ikhlas karena Allah, tanpa mengeluarkan atau meminta bayaran.
  2. Penyediaan makanan dan minuman bagi para penta’ziyah atau para hadirin haruslah disiapkan oleh para tetangga atau keluarga jauh dari si mayit tanpa membebankan keluarga dekat si mayit. Dalam penyediaan ini juga harus dihindari kemubadziran dalam penyediaannya.
  3. Adapun berkumpulnya masyarakat di rumah keluarga si mayit bisa dikategorikan kedalam bentuk ta’ziyah namun hendaknya ta’ziyah tidak dilakukan terlalu sering karena akan menambah kesedihan mereka, cukup dilakukan satu kali saja. Acara ini tidak mesti terpaku dengan hari-hari tertentu yang selama ini terjadi di masyarakat serta harus menghindari hal-hal yang dilarang oleh agama.

Ternyata pertanyaan dan argumen saya terjawab melalui penjelasan di atas yang saya contek dari eramuslim.com

Semoga menjadi penerang bagi yang awam dan petunjuk bagi yang belum memahami. Apa pun yang kita lakukan hendaknya atas dasar keimanan kita pada Allah SWT.

10 comments on “Tahlilan dalam kacamata Islam

  1. Mila mengatakan:

    Berkunjung…

    sekedar mengucapkan Assalamualaikum…🙂

  2. Agus Siswoyo mengatakan:

    Yang penting niatnya. Kita niatkan untuk menebar amal saja. Hitung-hitung kasih makan tetangga kanan kiri yang nggak mampu.🙂

  3. achoey el haris mengatakan:

    mendoakan itu baik
    nah masalahnya kadang merepotkan yang ditinggal meninggal karena harus menyediakan makanan🙂

    • komarudin depok mengatakan:

      itulah masyarakat kita, bagaimana kalau tahlilan gak usah di sediakan makanan, mungkin besok2 klu di undang lagi mereka gak mau datang kali…ya mas…?

  4. Asop mengatakan:

    Saya percaya, meyakini bahwa hanya tiga amalan tersebutlah (amal jariyah, anak yang sholeh, dan ilmu yang bermanfaat) yang bisa menyelamatkan seseorang yang telah meninggal dari neraka.

    Jadi, saya bukan penganut tahlilan, karena menurut saya cukup dengan kita mendoakan si mayit setiap kita habis sholat. Tidak akan berpengaruh kita tahlilan karena hanya tiga hal di atas yang mempengaruhi si mayit (nggak tahu lagi kalau tahlilan-nya dengan niat untuk silaturahim). Tetap, jangan lupa untuk mendoakan si mayit setiap habis sholat. Mohon agar semua amalan si mayit diterima, diampuni dosanya, dan diberi tempat yang pantas di sisi Allah SWT. Itu amat baik sekali.🙂

  5. Nandini mengatakan:

    semestinya keluarga yang ditinggalkan bisa lebih khusyuk berdoa malah jadi ga bisa berdoa karena harus menyiapkan segala tetek bengek keperluan tahlilan..

  6. komarudin depok mengatakan:

    saya setuju, tetapi alangkah baik nya lagi kalau makanan yang disediakan di bagikan pula kepada tetangga yang kurang mampu, apalagi janda dan anak yatim. Sebab selama ini makanan yang di diakan hanya dibagikan kepada mereka yang menghadiri acara tahlilan tsb yang notabene mereka yang hadir kebanyakan orang yang mampu(secara ekonomi).

  7. sugiono mengatakan:

    kalo soal ibadah mari kita ikuti Nabi Muhammad SAW, jgn pernah berpendapat, ataupun pintar pintaran, bilamana nabi dan para sahabat mengerjakan maka sdh sepatutnya kita mencontoh namun bilamana tidak ada contoh maka kita bertanya sendiri apakah kita mahluk akhir zaman lebih pandai dri Nabi SAW dan para sahabatnya sehingga membuat statment sendiri, jgn membiasakan kebiasaan tapi biasakanlah yg benar dan jgn membuat pembenaran, karena dari 4 madzab sendiri semua melarang hanya imam ahmad bin hambal yg mengatakan makruh, sementara imam Syafi’i jelas-jelas membidahkan….jd sdh cukup jelas mari kita dengar dan ikuti yg dicontohkan Rosulnya dan para sahabat, jadi bukan ulama tauladan kita karena ulama bisa salah tapi Rosululloh SAW INSYAALOH kita akan menemukan kebenaran yg hakiki….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s