Pare, obat alternatif diabetes

Sudah pernah makan sayur pare? ini kesukaan saya, apalagi kalo ibu saya yang masak. Tumis pare yang terkadang dicampur dengan ebi atau cacah daging, membuat selera makan jadi maknyusss! Rasanya memang pahit, tapi saya merasakan nikmatnya olahan sayur pare ini jika dicampur dengan bumbu-bumbu racikan, dan rasa pahit pun tak terlalu getir, malah membuat lidah saya ketagihan, hehehe.. 😀 Baca lebih lanjut

Iklan

Dia lucu dan bersahabat tapi…

Namanya Tomi, seekor anjing yang katanya adalah termasuk ras golden retriever. Entahlah, saya kurang tahu menahu soal jenis spesies ini tapi yang jelas bulunya memang berwarna kuning dan sebagian lainnya berwarna putih. Dia adalah anjing milik tetangga yang dijadikan penjaga keamanan di sekitar area perumahan, lebih tepatnya khusus untuk beberapa gang tertentu sesuai jangkauannya. Sayangnya, si tomi ini tidak begitu terawat baik, masalah makan atau pun kebersihan fisiknya. Alhasil, dia sering mendapat belas kasihan dari para tetangga sekitar untuk sekedar mengisi perutnya yang tak terjadwal. Termasuk saya yang terkadang memberi dia makan dan minum, maklum si empunya kurang mampu untuk memenuhi kebutuhan makan tomi yang cenderung lebih spesial. Mengapa dikatakan spesial? maaf saja, tidak semua manusia memakan menu daging setiap harinya apalagi keluarga dari kalangan sederhana. Para ibu rumah tangga atau perempuan yang biasa masak pasti sudah tahu harga daging sekilo ada di kisaran Rp50.000/kg, buat masak oseng-oseng kacang dan tahu tempe+telur bisa sampe 3 hari tuh 😀 Baca lebih lanjut

Mempermainkan Tuhan

Berapa kali dalam sehari menghadap Tuhan? Silahkan dijawab sendiri. Meskipun tidak menghadap sama sekali tapi yang jelas seringkali meminta, kan? doa yang kita ucapkan baik melalui lisan maupun dalam hati telah menjadi bukti kita mengakui adanya Tuhan. Siapakah Tuhan? jawaban saya adalah dzat yang menciptakan alam semesta beserta isinya yang patut disembah. Begitu agungnya Dia yang telah memberikan segala nikmat yang tanpa kita minta pun pasti tersedia. Masalahnya :

  1. Kita hanya ingat Tuhan dikala susah, sedih dan sengsara. Betul,kan? rata-rata manusia gitu.
  2. Jika kita menginginkan sesuatu, berharap doa kita segera dikabulkan. Sebenernya yang jadi Tuhan siapa, nih? Tuhan bukan jin botol dan bukan pula pembantu/asissten.
  3. Kalau berbuat salah, kita minta maaf, memohon ampun dan bertobat kepada-Nya agar terlepas dari hukuman. Jika sekiranya udah damai hatinya, suasana aman terkendali, berbuat lagi, lupa lagi dan begitu seterusnya. Apakah kita menyamakan Tuhan dengan para hakim yang ada di Indonesia? sepertinya kita telah mempermainkan Tuhan jika beranggapan demikian.
  4. Apabila berhasil dalam bidang apa pun, siapa yang pertama kali disebut? semua ini berkat bos saya, pimpinan saya, sahabat saya, pembimbing saya, tanpa mereka saya tidak bisa seperti sekarang. Tuhan mana, ya? Tuhan emang nggak minta balasan, tapi sopan nggak kira-kira, kalo kita berdoa sama Tuhan dan yang dapat pujian malah manusia lain?
  5. Dan yang paling penting kalau merasa diri kita milik Tuhan, apakah perintahNya selalu kita turuti seperti kita menuruti perintah atasan? padahal belum tentu perintah atasan itu bermanfaat buat kita, yang jelas manfaatnya, ya untuk atasan kita. Sedangkan Tuhan tidak sedang memanfaatkan kita, Dia maha sempurna, tak kurang satu apa pun.

Masih banyak poin yang kita kesampingkan dalam hidup ini. Memikirkan dunia memang penting untuk keberlangsungan hidup. Tapi jangan lupakan tujuan akhir, karena semua manusia pasti binasa dan kepadaNya lah kita kembali. Sekedar contoh, jika kita disuruh atasan untuk mengemban tugas keluar kota dan kita tidak melaksanakannya dengan baik dan bahkan cenderung merusak reputasi perusahaan. Apakah saat kita kembali bakal diterima dengan baik? mungkin opsi paling buruk adalah dipecat. Halah, cuma dipecat bisa cari kerja lain, mungkin ada yang berpikir begitu. Masalahnya ini kan contoh di dunia, tapi kalau di akhirat, siapa yang mau menampung kita kalau Tuhan menolak kita? sedangkan semua alam milik Tuhan. Selamat berpikir! saya nggak mau mikir, nggak sanggup. Langsung bertindak aja, membenahi diri selagi ada waktu mumpung umur masih diberi.

Posting ini khusus buat saya, kalau ada yang merasa tersindir karena selama ini hubungannya dengan Tuhan nggak cukup baik, mari kita mulai memperbaiki selagi ada waktu.

Menulis ternyata butuh pertimbangan

Sebenarnya bukan judul di atas yang ingin saya posting hari ini, tapi berhubung tulisan yang saya tuangkan rawan konflik maka, saya nulis yang aman-aman saja. Bukan sekedar update blog, seperti tujuan awal dari blog ini adalah melatih saya dalam belajar menulis, baik dari segi konsistensi dan konten meskipun keduanya belum dapat saya tepati saat ini karena alasan sebuah prioritas. Ada banyak hal sebenarnya yang bisa kita tuliskan dalam blog, namun ada beberapa hal yang seharusnya menjadi filter agar tulisan kita tidak menjadi sumber provokasi dan konflik media.

Salah satunya adalah etika , misalnya ingin memberitahukan informasi mengenai penipuan pada sebuah situs e-commerce. Tidak perlu berapi-api menuangkan kekecewaan sampai penghuni hutan disebutkan semua. Ada cara yang lebih intelek. Kenapa saya sebut intelek? Semua user yang bisa posting dan bikin thread pasti bukan orang gaptek karena mereka tahu cara berkomunikasi. Bijaksana donk brur… Boleh anda kecewa, tapi bikin postingnya yang sopan dunk. Baca lebih lanjut