Dilema

Hidup selalu memberikan pilihan. Namun terkadang pilihan itu menjadikan kita bimbang dalam menentukan sebuah keputusan. Apakah yang kita pilih baik untuk kita atau hanya sekedar keinginan kita. Banyak faktor yang mempertimbangan atas jatuhnya sebuah pilihan. Tapi pilihan yang melibatkan urusan hati lah yang biasanya sulit untuk dicari solusinya. Bukan tidak bisa tapi sulit.

Seringkali seseorang bekerja apa saja demi kebutuhan perut tanpa peduli dia menikmati pekerjaannya atau tidak, bahkan tidak memikirkan hasil yang ia peroleh halal atau tidak. Namun tidak sedikit juga yang menuruti kata hati bahwa yang ia kerjakan sesuai dengan apa yang ia harapkan. Menjadikan urusan perut di urutan kedua setelah kebahagiaan hatinya terpenuhi. Mottonya, “Biar uangnya sedikit asal halal”, atau “bekerja adalah berkarya”. Masalahnya di jaman seperti sekarang, idealis dan menuruti kata hati demi kebahagiaannya terkadang jadi bumerang buat diri sendiri. Kebutuhan terus meningkat dan tak dapat diganggu gugat sedangkan persaingan hidup kian meningkat. Bekerja terkadang bukan lagi untuk berkarya (sesuai bidang) tapi “berkreasi”. Dalam tanda kutip maksudnya adalah dalam segi positif atau pun negatif. Pengacara belajar dagang atau kalau segi negatifnya, karyawan gajinya juragan.hehe…

Urusan hati juga bukan hanya soal pekerjaan, tapi juga urusan “teman hidup”. Menentukan pasangan adalah sebuah dilema dikala apa yang kita kehendaki tidak sejalan dengan apa yang orang tua kehendaki. Itu yang pertama, yang kedua adalah soal masa depan. Hidup bukan hanya soal cinta, tapi lebih dari itu, menempuh jatah umur yang diberikan Tuhan sampai mati nanti dengan penuh perjuangan yang di dalamnya terdapat ilmu dan agama sebagai bekal. Terkadang saya tidak setuju, dengan makna cinta mengalahkan logika. Memang ada benarnya dan tidak dapat dipungkiri, kekuatan cinta itu melebihi kekuatan apapun karena bisa menembus ruang dan waktu bahkan hal ghaib sekalipun. Hanya maksud saya, memilih pasangan bukan hanya sekedar cinta tapi faktor lainnya juga harus mendukung, seperti yang telah saya sebutkan di atas.

Ini hanya sebuah pandangan, betapa hidup terkadang menjadi sebuah dilema dikala hati harus bertaruh untuk menentukan keputusan. Jika sesuai, selamatlah kita nanti. Jika tidak, Allahualam. Semoga apa yang kita tentukan dalam hati selalu ada intervensi dari Tuhan agar tujuan hidup kita dirahmati dan diberkati. Bermunajat dan berikhtiar tanpa putus asa, itulah yang disarankan orang bijak.

Wahai hati, sebutlah nama Tuhanmu agar kamu menjadi kuat. Sesungguhnya kamu  adalah hakikat seorang mahluk bernama manusia yang menjadi pembeda dengan mahluk mana pun di bumi ini. Karena setiap (niat) perbuatanmu berasal dari hati.

 

2 comments on “Dilema

  1. Fikriyansyah mengatakan:

    sesungguhnya segala sesuatu trgantung dari niat (begitu bunyinya).🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s