Jalan berputar

Sewaktu kecil, diantara kita ada yang memiliki sebuah atau beberapa cita-cita saat dewasa nanti. Ada yang ingin menjadi dokter, tentara, bahkan ada yang ingin menjadi presiden. Namanya juga anak-anak, cita-cita terkadang hanya sebatas bibir tapi tak sedikit yang memegang harapannya hingga remaja dan bahkan ada yang berkesempatan mewujudkannya saat dewasa.

Keteguhan hati dan sikap konsisten yang dipelihara semenjak kecil dengan dukungan dan pengaruh lingkungan turut andil dalam sebuah pencapaian. Tapi terkadang  jalan hidup manusia tak selamanya mulus, tak dapat dipungkiri bahwa tujuan semula seringkali berubah arah. Keinginan manusia hanya sebatas ikhtiar tanpa hasil seperti yang diharapkan.

Seperti pemuda satu ini, selama bertahun-tahun mencari jati diri hingga suatu ketika dia temukan suatu hal yang membuatnya yakin bahwa dirinya telah menemukan cita-cita. Keyakinan itu ia perjuangkan dengan banyak pengorbanan, berharap kelak bisa menggantikan posisi orang tuanya sebagai pencari nafkah. Maklum dialah anak satu-satunya.

Jauh sudah dia melangkah menempuh perjalanan waktu melewati kerikil dan bebatuan, menahan terik dan menembus hujan tapi Tuhan berkehendak lain. Usahanya menggapai cita-cita dicukupkan sampai batas sebuah amanah orang tua. Pasrah dengan keadaan diri namun belum menyerah. Kali ini ia temukan kembali cita-cita baru yang mungkin menggantikan cita-cita sebelumnya hanya untuk sementara. Perjuangan kembali dimulai, kendala dan hambatan ia lalui meski terseok-seok tapi tetap teguh untuk terus berusaha. Berhasilkah? belum, dia harus menemui kenyataan lain bahwa ada masa dimana dia tidak bisa berlama-lama meniti jalan menggapai cita-citanya itu

Langkahnya harus lebih lebar dari sebelumnya untuk mencapai tempat tujuan karena dia sadar waktu terus menggerusnya lebih cepat dari yang ia perkirakan. Jika tidak, maka dia akan hidup seperti orang kebanyakan yang menggantungkan cita-citanya dan menjadikan “Hidup karena sebuah tuntutan” kemudian berputar kembali meraih kesempatan kedua untuk melanjutkan cita-citanya karena tuntutan telah terpenuhi.

Pemuda itu ingin menjadi seorang seniman, tapi seniman tidaklah serta merta bisa dijadikan profesi yang layak untuk memenuhi kebutuhan hidup sesegera mungkin. Seniman bukanlah PNS yang mendapat gaji bulanan setiap harinya. Ia harus membuat sebuah karya terlebih dahulu untuk dinilai. Itu pun harus bernilai komersial, jika menuruti idealisnya, akankah setiap orang berpikiran sama untuk menghargai hasil karyanya?

Jalan berputar. Hidup yang kita inginkan tidak semulus yang kita perkirakan. Memenuhi kebutuhan lantas memeluk keinginan. Mungkin begitu maksud Tuhan.

Terinspirasi oleh novel “Perahu Kertas” karya Dee, pemberian sahabat tercintaku, SCTF.

7 comments on “Jalan berputar

  1. menone mengatakan:

    kayak lagunya d’masiv az syukuri apa yg ada ya ga sob? yg penting halal

  2. byzhee mengatakan:

    😉 Akhirnya kau menemukan sesuatu d novel itu..

    Tapi qo malah curhat, hihihii..

  3. Perempuan bodoh mengatakan:

    Perahu kertasnya Dee emank kerenn buangett, tp ttg jalan b’putar… wokehh lahh, asal muternya jangan kejauhan aza. Makin nyasar, makin buank2 waxtu bukan?

    Salam kenal🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s