Ayam Kampus

Sudah sepekan lebih koran lokal daerah saya membahas topik bertema Ayam Kampus (AK). Radar Jember memuatnya di halaman pertama hingga 12 edisi (edisi yang terakhir saya baca) dan sepertinya edisi terus ditambah. Topik yang sangat menarik buat saya, mengingat saya juga anak kampus tapi bukan ayam loh… hehhee…

Sesuatu hal yang membuat saya heran adalah bisnis ini memang sangat rapi,  persis seperti yang dikabarkan dalam wacana koran tersebut. Saya saja yang sudah lima tahun lebih jadi mahasiswa (Diploma+S1) tidak tahu menahu soal yang beginian, kalau Radar Jember tidak memuatnya jelas saya nggak ngerti apa-apa. Menurut koran tersebut, mereka berdandan selayaknya mahasiswi pada umumnya sehingga jika dilihat dari segi performance nggak ketahuan kalau ternyata mereka adalah AK. Selain itu, hanya orang-orang tertentu saja alias orang-orang yang punya jaringan saja yang bisa memakai jasa AK ini. Pantesan saya nggak tahu😀

Anda tahu berapa tarif mereka untuk short time ? Rp 500.000. Ini berarti sekali pembayaran SPP satu semester saat saya masih Diploma atau hampir setengah dari SPP satu semester saat ini dan itu diraihnya hanya dalam waktu beberapa menit saja. Bayangkan saja kalau sehari ada dua kali kencan, dalam seminggu mungkin bisa mengalahkan gaji para PNS… Tarif tersebut adalah tarif minimal dan mutlak dipenuhi serta tak ada tawar menawar. Mereka bekerja sendiri dan ada pula beberapa diantaranya yang menggunakan perantara “mami”.

Pekerjaan yang menggiurkan jika dilihat dari hasilnya, bahkan mereka yang notabene adalah anak-anak kost bukannya menerima kiriman dari orang tua mereka tapi mereka yang mengirim uang pada orang tuanya dengan dalih mereka bekerja sebagai SPG.

Membaca kisah mereka saya jadi miris, benarkah potensi seperti ini akan terus berkembang? mengingat kota saya adalah kota kecil yang merangkak ke arah modernisasi tapi sudah begitu kuat pengaruh buruknya. Sekedar anda tahu, mereka mengakui bisa menyembunyikan statusnya sebagai AK dari teman, pacar dan bahkan orang tuanya… Buat yang bujang seperti saya, apa nggak ngeri denger pengakuan seperti itu? memang nggak semua perempuan ,sih tapi potensi pasti ada, karena alasan mereka satu-satunya adalah kebutuhan hidup. Bagaimana jika kebutuhan hidup adalah alasan yang dijadikan pertaruhan bagi semua perempuan? Selain alasan tersebut, umumnya mereka sudah pernah berhubungan dengan pacarnya terlebih dahulu. Nah, untuk hal yang satu ini saya teringat tulisan mas Achoey

Ada satu hal lagi pengakuan mereka yang membuat saya semakin bergidik tak bernyali, “mereka tidak pernah memenangkan hati saya“. Hal ini menjelaskan bahwa selama menjalani profesinya, mereka tak pernah melibatkan rasa dan cenderung ingin segera selesai “bermain” dengan partnernya karena tekanan batin. Apa pun alasannya saya menjadi sangat *&$#@… Mungkin ini pernyataan yang amat bodoh, ngapain para hidung belang  mencoba merebut hati ? mereka itu kan pemburu nafsu bukan pemburu cinta! oh, tololnya.

Secara nggak langsung mereka telah bersikap tidak adil kepada dirinya sendiri dan juga calon suaminya kelak. Ya, mereka mengungkapkan ingin hidup normal setelah lulus kuliah. Beban biaya kuliah yang dijadikan alasan untuk menjalani profesi haram tersebut. Mereka mempunyai harapan untuk bisa menikah dengan pria yang mau menerima apa adanya. (setelah semua yang dia lakukan?)

Ada yang berkenan?😛

12 comments on “Ayam Kampus

  1. achoey el haris mengatakan:

    Lama tak ngeblog nih saya😀

  2. achoey el haris mengatakan:

    menyedihkan ya
    kadang apakah benar alasannya pun belum bisa dipastikan
    saya menangkap ada wujud sifat lemah dalam diri mereka yg menyerah
    bukankah jika sungguh2 asih ada cara lain tuk mencari uang buat kuliah

    • blogbobby mengatakan:

      bener tuh, mas… masa iya mereka terpaksa? hanya untuk bayar uang kuliah?
      lebih baik putus asa untuk tidak melanjutkan kuliah daripada putus asa karena beban hidup.

  3. rime mengatakan:

    miris banget…

    saya tinggal di Bandung, dan hal-hal seperti itu ga begitu aneh di sini… malah anak-anak yang duduk di bangku SMP pun katanya ada yang jualan.

    mudah2an aja mereka memang melakukan itu untuk bayar SPP… saya akan lebih merasa miris lagi kalau tujuan sebenarnya adalah untuk ikut-ikutan pake blekberi😦

  4. hudaesce mengatakan:

    Hem…,sungguh menyedihkan😥 mungkin ditempat saya juga banyak yang kayak gitu, dan tinggal menunggu di ekspos saja, semoga dalam belajar bukan hanya mengedepankan materi tentang IPTEK saja melainkan juga IMTAQ juga. dengan harapan semoga untuk kedepannya hal2 semacam ini tak terjadi lagi atau se nggaknya dapat terkurangi 🙂

    • blogbobby mengatakan:

      Bener tuh, harus ada IMTAQ juga… tapi masalahnya pengaruh lingkungan sangat kuat, bro… harus ada dukungan dari keluarga. Jangan menyerahkan sepenuhnya kepada lembaga pendidikan.

  5. Sriyono semarang mengatakan:

    Palagi dikotaku…
    Ahahahaha….
    Tapi juga gitu deh, sama… cowok alim… :p
    Tahunya baru setelah lulus and dah kerja… Ternyata…

  6. Agus Siswoyo mengatakan:

    Dimana ada permintaan, akan selalu ada penawaran terhadap pemenuhan kebutuhan barang/jasa tertentu. Memberantas perilaku ini tidaklah mudah. Ada banyak variabel yang terlibat di dalamnya. Tapi tetap sih, ujung-ujungnya masalah ekonomi juga.

    • blogbobby mengatakan:

      Berarti awalnya dari permintaan donk mas? Sepertinya nggak melulu uang, mungkin ada rasa “enak” juga kali… Entahlah, alasan klasiknya selalu masalah ekonomi… Saya mau lihat dlu ke Brunei, rakyatnya kan dijamin tuh… tapi masih ada prostitusi nggak ya….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s