Bersyukur

Suatu saat aku melihat ada dua orang pengemis bergandengan tangan sedang berjalan menyusuri setiap deret toko dan warung sedang meminta sedekah. Salah satu dari mereka buta dan tua dituntun temannya yang sesama pria tapi masih paruh baya. Pak tua buta mengikuti jalan temannya dengan tertatih-tatih. Sedangkan temannya tetap menggenggam lengan dan sewaktu-waktu saat meminta sedekah, telapak tangan pak tua ia tengadahkan, berharap penderma mau berbelas kasih untuk memberi.

“Kasihan”, itu kataku dalam hati saat melihat mereka dari kejauhan menyeberangi jalan, keliling kesana kemari mencari dermawan tanpa perdulikan teriknya sinar matahari saat itu. Kemudian aku bertanya masih dalam hati, “kemanakah anak cucumu pak tua? siapa orang di depanmu itu? karena nampaknya dia masih sehat untuk bekerja”. Entahlah, mengingat kejadian itu sungguh aku bersyukur masih dapat melihat isi dunia ini dan di sisi lain menyadarkanku bahwa hidup itu sampai kapan pun butuh uang sebagai bekal untuk mempertahankan hidup. Bukan hanya untuk mengenyangkan isi perut tapi juga melengkapi kebutuhan yang lainnnya. Bahkan mati pun kita butuh uang, tetapi uang bukan segalanya, ia hanya bagian dari hidup.

Aku tak bisa membayangkan jika dunia ini gelap seperti yang dirasakan pengemis tua itu. Bingung dan pastinya tersesat tanpa bantuan dari yang lain. Bahkan cahaya tak mampu menerjemahkan bentuk dan warna. Sekali lagi aku sangat bersyukur kepada Allah yang telah memberiku kesempurnaan panca indera dan juga nikmat yang selalu bisa aku rasakan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s